begitu kata ibu. Bokep Hot tambahnya dengan suara serak.Sekali lagi aku terperangah. Ada beberapa surat ketinggalan. Sprei moratmarit dan kulihat bercak darah di sprel itu. Aku memang puas dan bahagia dalam soal pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiaku sungguh terguncang. Aku tak bisa berpikir jernih tagi. Ayahmu kan sudah tiga tahun meninggalkan kita, sehingga ibu sudah cukup lama menjanda.Aku langsung bisa menebak apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya. Tidak apaapa kok Bu, Pak Herman kan orang baik, duda lagi. Entah bagaimana, aku pasrah saja dan bahkan begitu mendambakan sentuhan seorang lelaki. Maklum, ayahku hanya pegawai kecil di Pemda KMS.Untuk menyambung hidup dan biaya sekolahku dan Charles, ibuku terpaksa membuka toko jamu di samping rumah. Mungkin bila nanti sudah lulus dan jadi sarjana aku bisa keluar dan lingkugan rumah dan bekerja di kota lain. Kubiarkan ranjang moratmarit dan sprei berdarah itu tetap berada di sana.




















