“Nia, jalan yuk.”
“Ha? Video bokep Enni tidak mau lagi mendengar alasanku. “Masa?” tanyaku. “Yah, baik-baik saja. “Iya deh, jangan pulang malam-malam okay.”
“Yop.”Kuletakkan gagang telpon ketempatnya semula, mengambil celanaku dan berpakaian. Monyet!Kuulurkan tanganku mengangkat gagang telepon yang barusan berbunyi keras sekali di pinggir kepalaku. Kulihat pandangan matanya yang sayu, melihat anggukan kecilnya. Kuraba celah kemaluannya yang mulai basah dari balik celana dalamnya.Menggerak-gerakkan jariku, membuatnya semakin meronta dalam tindihan dadaku. ahh..” kudengar nafasnya mendengus. hh..” Dengan gerakan halus kutarik celana dalamnya menelusuri pahanya, betisnya, menikmati geliatnya di tindihanku. mm.. maaf..” Aku beringsut ke bangkuku sendiri, menutup mukaku dan menangis seperti seorang anak kecil. “Ray? sori aku sedikit emosi.”
“Hmm.. “Yah, baik-baik saja. uh.. Kulihat payudaranya yang membusung dan putingnya yang terlihat menggoda. nggak pernah ada apa-apa kan?” Aku tersenyum kepadanya.“Thanks..”
“Your welcome, Ray,” jawab gadis manis itu sebelum menghilang di balik pintu rumahnya.




















