Tak terasa, karena rasa kantuk yang tak tertahankan lagi, aku pun tertidur tanpa sempat berubah posisi.Aku tak menyadari ada seseorang membuka pintu kamarku dengan perlahan-lahan, hampir tak menimbulkan suara. Bokep Jangaann! Maafin Rio ya. Melihat pemandangan yang indah ini membuat mata Rio tambah menyalang-nyalang bernafsu.Tangan Rio mencengkeram kerah blus yang kukenakan. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur. “Akh!” Rio kesakitan sewaktu kugigit lidahnya dengan cukup keras. Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Namun dekapan ayah tiriku yang begitu kencang membuat rontaanku itu tidak berarti apa-apa bagi dirinya. Matanya terbelalak melihatnya. Apa-apa sih kamu ini?! Setelah itu aku kapok. Aku pun yang saat itu sudah di semester enam kuliahku, diterima bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta nasional papan atas.










