“Aaahhh…Andai mbak Win belum bersuami…”. Matanya mulai berkaca-kaca dan air mata mulai menetes dari sudut matanya yang indah.“Mbak Ratih, ini tolong diterima ya” ucapku sambil menyodorkan uang.“Apa ini mas?” tanyanya diiringi isak tangis.Ruang dapur yang biasanya dihiasi tawa, kini berubah drastis, apalagi suasana haru saat itu justru menambah kedekatan hati kami.“Ini gaji terakhir mbak Ratih ditambah sedikit sebagai ucapan terima kasih saya pada mbak Ratih…” ucapku.“Ta…tapi mas…” jawabnya terbatu bata.Aku tak menjawab namun kuberanikan diri untuh meraih pergelangan tangan kanannya dan menyerahkan uang itu. Bokep Colmek Disaat sebayaku sedang merintis karir dari bawah, aku sudah punya asisten pribadi yang mengelola beberapa bidang usaha yang kumiliki.Namanya mbak Ratih. Kulihat kedua bola matanya naik keatas seolah merasakan sesuatu yang amat dahsyat.Rasa lelah bercampur nikmat membuat kami berdua masih terhanyut hingga kami masih saling berpelukan dan tertidur.“Mas Adam…bangun mas…” katanya membangunkanku.Aku mencoba membuka mata meski tubuhku masih terasa capek dan lemas.“Ayo




















