Begini saja daripada repot-repot. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Bokep Jilbab/Hijab Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Napasnya tersengal. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Aku masih mematung. Aku dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Jari tangan mulai dingin. Garis setrikaannya masih terlihat. Satu dua, satu dua. Atau apalah? Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”
Semua penumpang menoleh ke arahku. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.




















