“Terima kasih, Mas Joe.”
“Untuk apa?”
“Karena telah mau menemani Mikha.”
Aku hanya diam. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Bokep Colmek “Kenapa sudah ada di sini, sih? Tapi tadi katanya ngantuk?”
“Udah terbang bersama asap.” Katanya, tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel di pangkal tangan kiriku. Anak ini badung juga. “Kenapa sudah ada di sini, sih? Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku. Mikha cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip. “Bener?”
“Iya. Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan. “Mas, Mas wartawan ya?” katanya kepadaku. “Bener?”
“Iya. Aku mendekati kerumunan simpatisan partai. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Rumah saya di dekat situ juga.”
“Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini? Eh dia lebih galak.”
“Dibalas lagi dong.




















