Aku menggoyang pinggul bak pedangdut, membuat putaran dan pelintiran serta erangan. Bokep Brazzers “Kok sekarang jadi terus menerus manggil tuan…?” Aku tertunduk.Terdiam. Tuaannnn….” aku tak tahan.Terlalu enak. Terasa dingin di sore yg panas itu. Aku mengerti. Aku hanya punya tubuh ini, itupun sudah dinodai. Di sanalah aku menangis sejadi-jadinya, hingga lelah dan ketiduran. Terlalu gila, tdk pernah dibayangkan akan begini, tapi nyatanya luar biasa. Saya hanya pembantu. Aku mengangguk. Kepala bulat licin itu mencari jalan menguak bibir vaginaku. Mataku memandang penisnya yg melemas, masih basah berlendir.“Kak Edo… saya terima kenyataan. Bersih tak berbekas, aku menyemprot dengan pembersih yg wangi lavender, kesukaan ibu, kesukaanku juga. Udara terasa semakin dingin malam ini. Apa kata keluarga, apa kata Bapak dan Ibu? “Saya tetap saja begini, tuan. Kalau tuan mau meniduri saya… rasanya bahagia.”
“Jangan… jangan bilang begitu…” Aku tersenyum sedih.Aku mengangkat wajah, memandangnya.




















