Ntar dikira macem-macem…” Ujarku, menolak halus tawaran Sinta.“Tenang aja, Mas. Penisku sedang berdiri sedang, tidak terlalu tegang, tapi pasti terlihat jelas bila ku tanggalkan celanaku dan tersisa celana dalamnya saja.“Gak berani ya? Bokep Hot Ntar dikira macem-macem…” Ujarku, menolak halus tawaran Sinta.“Tenang aja, Mas. Uangnya masih ada semua…” Jawabnya sambil menutup dompet.“Mas, masuk dulu yuk. Tuh liat gak?” Si pemilik warung menunjukan tangannya ke arah rumah yang letaknya tidak jauh dari warung tersebut.Aku pun mengangguk.“Makasih ya, Pak…” Jawabku.Ku datangi rumah tersebut. Udah gede ini, macem-macemnya enak juga…” Jawab Sinta santai.Perkataan Sinta sejujurnya membuat pikiran kotorku semakin menjalar tak karuan. Harus mengurus KTP, ATM, belum lagi SIM dan STNK, selain memakan biaya, juga memakan tenaga dan waktu, bukan hanya perkara uang yang ada di dalam dompetnya saja.Tidak sampai 15 menit, aku sudah tiba di jalan yang tertera di KTP. Sungguh gila, namun hal itu membuatku semakin menyukainya.




















