Pandanganku tak beralih sedikitpun dari wajahnya yang tersenyum. Lembut. Bokep Montok Kami lalu berkenalan dan berjabat tangan. “Kamu mau kemana ini?”
“Tak tahu,” kataku. “Tidak apa-apa. “rumahmu di mana?”
“Terus saja sampai ke simpang Semangka.”
“Baiklah.” Itu saja. Kulihat ia tersenyum menatap selangkanganku yang sudah terlihat menonjol. Ia melepaskan bibirnya dan menggeleng, saat aku bergerak hendak memeluknya. Katanya, “Help me?”
“Ahh,” desahku, lalu mengulurkan kedua lenganku, menyusupkannya ke balik pinggulnya, berusaha mencari pengait span yang ia kenakan. Lembut. “Hey !” seruku. Nafsuku sudah sampai ke ujung. Jangan buatku kecewa.”
Aku tertawa dan bangkit dari sofa, lalu mendekatinya. “Kamu akan menghilang besok pagi?” Kudengar ia tertawa lirih. Ia tersenyum memandangku. Emosi dan nafsuku campur aduk.




















