Terkadang ibuku datang ke rumahnya, terkadang dia datang ke rumahku.Dan satu kebiasaan yang kulihat pada Tante Ratih ini, dia suka duduk di sofa dengan menaikkan sebelah atau kedua kakinya di lengan sofa. Bokeb Tante capek sekali”, katanya membujuk supaya aku melepaskannya. Dan juga jangan sekali-kali bilang sama ibumu”.“Ah buat apa itu saya bilang-bilang? Wah aku betul-betul terpesona.Dan Tante Ratih ini teman ibuku. Aku tahu apa itu. Aku khawatir kalau-kalau bayinya nanti hitam. Akupun segera mengendorkan serangan, menahan diri. Teh telor. Tanyaku dalam hati. Dan aku teringat pada kekalahanku barusan. Dia bakalan marah sekali anaknya Tante makan”, katanya tersenyum masih tersengal-sengal menahan berahi yang belum tuntas penuh.Kontolku berdenyut lagi mendengar ucapan Tante itu, apa memang aku yang dia makan bukannya aku yang memakan dia? Nanti bilahmu itu tahu sendiri.” Suaranya penuh tantangan.Dan akupun berbalik, nafsuku menggelegak.




















